PERKENALKAN, SAYA GURU TK

PERKENALKAN, SAYA GURU TK



    Seingat saya, menjadi guru adalah cita-cita yang tidak pernah menjadi tujuan hidup saya. Apalagi guru TK. Sampai akhirnya baru-baru ini saat saya berbincang seru via telepon dengan salah seorang teman sekolah di SMK dulu yang dia berucap "Alhamdulillah ya Rim, cita-cita lo kesampaian jadi guru. Dulu di sekolah kan lo pernah bilang mau jadi guru". Sambil mengeryitkan alis, saya mencoba mengingat. Dalam hati saya berucap "Apa iya??". Sebenarnya saya cukup hafal dengan cita-cita masa kecil sampai saya beranjak dewasa. Mulai dari kepingin jadi penyanyi, arsitek, dokter ahli bedah (karena mama sempat sakit dan dioperasi), ustadzah karena suka ikut mama ngaji sampai jadi Polisi. Tapi karena terman saya tersebut begitu yakin saya pernah berucap ingin jadi guru membuat saya semakin yakin bahwa Allah akan approved apa saja niat baik kita yang kita ucapkan dan memang tepat untuk kita. So..jangan salah ucap, gaess :). 

Kalau diingat-ingat, memang sepertinya saya cukup banyak mempelajari gaya dan cara mengajar guru-guru saya dimasa sekolah dulu. Banyak sekali sosok guru yang menjadi inspirasi sehingga begitu lekat kenangan kenangan saya bersama mereka saat itu. Bu Pin, guru TK yang sekarang telah wafat (semoga Allah tempatkan ia ditempat terindah) adalah sosok yang selalu muncul ketika saya bertemu teman-teman kecil di TK dulu. Kesabaran, kelembutan dan kesederhanaan beliau begitu menginspirasi. Selain itu ada Bu Helma sang kepala sekolah yang ketika sesekali masuk kelas dan berkeliling sekolah begitu menarik perhatian saya. Kharismatik, ya saya sebut dengan kharismatik. Beliau sosok yang punya kharisma di mata saya. Di SD saya sangat terkesan kepada Bu Lis dengan kecerdasannya, Bu Teguh dengan kelembutannya, Pa Suprapto dengan segala anekdotnya, Bu Nuryani dengan tulisan bagusnya, Pa Mudorin dengan suara bersinnya juga Pa Agus (semoga Allah tempatkan ia ditempat terindah) dengan ketegasannya.

Berikutnya masa SMP. Masa ini adalah masa yang lebih menyenangkan lagi. Ada teman dan pelajaran baru, guru pun lebih banyak. Pa Dimyati yang kalau melihat beliau saya langsung teringat Ki Hajar Dewantara yang ada dibuku:), Pa Warsono yang dengan kelucuannya meredakan stress saya menghadapi  matematika, Pa Imron yang suka bikin deg degan dengan tepukan jidat dadakannya, Si cantik nan anggun Bu Aryani, blak-blakannya Bu Esti  di Biologi dan Pa Karim yang berulang-ulang berucap kalau saya bisa jadi presenter seperti Rina Gunawan. (Zaman itu ada acara hype Campur Campurnya Rina Gunawan. Search deh! Ketauan yee usia we...). 

Berlanjut ke SMK. Beberapa profile guru menjadi highligt. Bu Edeh yang lugas, Bu Entin yang sunda pisan, Bu Ropiah yang suka ngajak jajan di kantin, Bu Eva yang kalau masuk angin terus bilang "Rima mana Rima?" (kerokin mode on:) lalu Pa Apip yang.... sebut ga nih? hehe..

Di kampus juga ada Bu Wiwik yang darinya saya belajar mencatat kata-kata penting dosen (Untuk jadi evidence klo di tengah jalan kapal berubah haluan), Bu Ida dengan keahlian pedagogik dan suara merdunya, Bu Niken dengan kelugasannya, Prof Agus dengan wawasan luasnya, Bu Happy dengan keteraturannya, Pa Bombom dengan sepak terjangnya, Pa Anshar dengan kesabarannya, ga lupa uniknya Pa Andi dengan jurnal-jurnalnya.  Disamping nama-nama di atas ada juga guru-guru teman sejawat yang luar biasanya menginspirasi mulai dari awal mengajar sampai sekarang dan banyak lagi sosok inspiratif lainnya yang begitu lekat dalam ingatan. 

Semesta pun seperti selalu membuka ruang untuk saya mengajar. Lulus sekolah sempat mengajar Iqro dan Bahasa Inggris di masjid dekat rumah yang saat itu memunculkan kontradiksi dari tokoh setempat. Katanya Bahasa Inggris tidak tepat untuk diajarkan didalam masjid. Akhirnya dengan tujuan menghindari konflik serta menghargai marwah beliau sebagai tokoh masyarakat, saya dan beberapa teman hanya mengajar mengaji saja. Semoga menjadi amal jariah saya dan teman-teman remaja masjid yang terlibat. 

Kurang dari setahun setelah itu saya pun menikah. Kemudian beranak pinaaklah saya. Rumah selalu menjadi kelas dan anak menjadi siswanya. Ternyata tetangga ikut memantau aktivitas saya bersama anak-anak sampai akhirnya beberapa dari mereka dengan inisiatif menitipkan anak untuk belajar bersama saya dan anak-anak di rumah.

Tawaran mengajar PAUD pun datang, seolah tak mau melewatkan kesempatan saya pun terima dengan senang hati. Kurang lebih sebulan di PAUD, saya merasakan kegembiraan saya meningkat pesat. Betapa saya menemukan diri saya pada profesi ini. Beruntungnya saya diawal karir mengajar dulu Alhamdulillah Allah pertemukan saya dengan Bu Ratih, Si guru cerdas hitam manis yang banyak memberi tauladan bagaimana menghidupkan kelas dan mengajar dengan ketulusan yang terpancar. Semoga beliau sehat dan Allah pertemukan saya lagi dengannya. 



Hari demi hari saya jalankan dengan penuh semangat untuk belajar dan membelajarkan hingga akhirnya suami tercinta menyerankan saya untuk mendalami kePAUDan dijenjang formal strata 1. Kecintaan akan PAUD semakin menebal di hati saya, hal itu berdampak pada rasa haus saya akan berbagai model pembelajaran, metode, strategi dan gaya mengajar guru-guru. Saya pun berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain (Sampai ada yang bilang saya kutu loncat loh!! Haha..no problem. Kata-kata dan label buruk selalu menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk terus lebih baik. Dulu...hari ini dan sampai nanti :)). 

Terima kasih saya dedikasikan untuk guru-guru dan teman sejawat saya tanpa terkecuali. Semoga Allah berikan keberkahan hidup dunia akhirat untuk kita. Terima kasih ya Allah..atas izinMu hamba ada dalam dunia ini. Dunia penuh manfaat. Dunia yang dikelilingi oleh tubuh mungil & mata tulus tak berdosa yang seringkali membuat lupa akan problematika hidup. Saya cinta PAUD! Jika ada yang bertanya siapa Rima, perkenalkan SAYA GURU TK. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak : “AYAH SAYANG KAMU RARA”